Kalangan ABG saat ini sudah memiliki ponsel berkamera sehingga narsis bukanlah kata asing buat kita, apalagi khususnya di Indonesia.Coba deh anda lihat di jejaring sosial seperti Facebook yang memungkinkan anda menyimpan beberapa album foto.
Dan fenomena yang terjadi adalah, hampir 70 persen isi dari album foto yang dimiliki adalah foto diri sendiri. Kebanyakan remaja malah dengan konsisten memotret bagian wajah mereka, dengan pose yang sama berkali-kali.
Fenomena ini menumbuhkan dan mempopulerkan kata NARSIS untuk merujuk pada seseorang yang begitu senang memotret dirinya sendiri. Bahkan, perilaku narsis ini mulai menulari para orang dewasa, yang mulai suka mengabadikan momen-momen pribadinya melalui kamera ponsel.
Kata narsis pertama kali digunakan oleh Sigmund Freud yang mengambil tokoh Yunani bernama Narkissos (dalam bahasa latin, Narcissus). Narkissos ini adalah seorang pria yang hidup dibawah kutukan dimana ia begitu mencintai dirinya. Saat ia melihat bayangan dirinya di danau, ia begitu terpesona, hingga akhirnya ia tenggelam di kolam itu. Konon, ia berubah menjadi sebuah bunga yang indah, yang bernama bunga Narsis.
Ternyata, mencuatnya kasus video porno yang diduga melibatkan anggota dewan juga berhubungan dengan fenomena narsisme. Psikolog Lucia RM Royanto mengatakan, narsisme turut berperan dalam perubahan nilai-nilai yang ada di masyarakat Indonesia. Dulu, orang akan berusaha menyembunyikan apapun yang bersifat kejahatan.
Namun dengan adanya teknologi, seseorang bebas mendokumentasikan setiap momen dalam hidupnya. Ia juga yakin jika tujuan mengabaadikan momen seperti foto atau video, adalah untuk konsumsi pribadi. Jika ternyata hal itu tersebar, maka itu adalah kesalahan si pemiliknya yang teledor.
Narsisme sendiri merupakan suatu keadaan yang sudah ada dalam diri seorang manusia sejak ia dilahirkan. Sifat tersebut memiliki sisi positif dimana seseorang akan berlatih untuk lebih percaya diri dan tidak terlalu bergantung kepada orang lain.
Namun, ketika rasa percaya diri itu sudah berlebihan, maka seseorang akan lebih banyak memiliki keburukan. Misalnya saja, dia akan menganggap dirinya terlalu hebat untuk membutuhkan bantuan orang lain. Dan kadangkala ada kecenderungan seseorang itu tidak menghargai orang di sekitar kita.
Maka dari itu, sebaiknya kita sebagai manusia yang berjiwa sosial, mencintai diri sendiri bukanlah hal yang buruk. Justru itu akan menjadi pecutan semangat bagi anda untuk bisa lebih memperbaiki diri. Namun perlu diingat juga bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Ada orang lain yang kerap kali menilai perilaku kita di masyarakat. Oleh sebab itu, jagalah harga diri anda dengan bijak mencintai diri sendiri.
Senin, 13 Januari 2014
Narsis Pamer Tubuh Jadi Tren Cewek Sekarang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar